Saatnya Santri Berperan dalam Hidup Sehat (Bhakti Sosial IAKMI)


Diposting pada 18 November 2021, 14:24 Oleh Afiati HK


Jumat, 12 November 2021, Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah Babakan Lebaksiu tampak ramai. Tabuhan hadroh yang dimainkan sebagai alat musik memperdengarkan iringan melodi khas muslim yang harmoni. Santri-santri putera duduk berjajar dengan rapi menyanyikan dan memainkan alat musik hadroh. 

Siang itu rombongan tim Bhakti Sosial yang merupakan kolaborasi organisasi Masyarakat IAKMI, aktifis Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI), dan Eco Enzym Nasional (EEN) mengunjungi Pondok Pesantren puteri binaan KH. Ahmad Nasichun isa Mufti

Organisasi masyarakat IAKMI Kabupaten Tegal melaksanakan Bhakti Sosial sebagai wujud dari Pengabdian pada Masyarakat, yang merupakan salah satu visi dan misi organisasi. Kegiatan Bhakti Sosial IAKMI terselenggara sebagai salah satu kegiatan dalam memperingati Hari Kesehatan Nasional ke57 yang kali ini mengusung tema Sehat Negeriku, Tumbuh Indonesiaku. 

Pada kesempatan itu IAKMI Kabupaten Tegal menggandeng organisasi lain yaitu ASOBSI (Asosiasi Bank Sampah Indonesia), EEN (Eco Enzym Nasional) dan HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia).

Bhakti sosial tersebut merupakan penyinergian dari rangkaian kegiatan vaksinasi ke seluruh Kabupaten Tegal yang dilaksanakan hari-hari sebelumnya. Peringatan HKN menjadi momentum untuk mengedukasi masyarakat, dan melatih perilaku masyarakat dalam melakukan gerakan hidup sehat bagi diri sendiri maupun lingkungannya, baik tingkat keluarga, masyarakat maupun institusi pendidikan. 

“Melalui kegiatan bhakti sosial kali ini masyarakat juga diharapkan dapat kembali produktif, membangkitkan ekonomi dengan tanpa mengesampingkan protokol kesehatan melalui pemberian edukasi, pemberian bantuan TPS dan alat praktik pengolahan sampah sebagai apresiasi bagi masyarakat yang telah berkontribusi dalam penangangan covid-19”, terang Ketua Umum IAKMI Kabupaten Tegal Dr Joko Kurnianto, SKM. M.Kes.

Edukasi terhadap kesehatan diri dilakukan melalui pemberian makanan bergizi (buah) dan pemberian tablet besi salut gula. Kegiatan edukasi kesehatan lingkungan dilakukan melalui pemberian bantuan Tempat Pembuangan Sampah, pemilahan dan pengelolaan sampah melalui pembuatan eco enzyme dan budi daya maggot.


1# Penyerahan Bantuan Tempat Pembuangan Sampah 

Pemberian bantuan Tempat Pembuangan Sampah sementara merupakan bentuk kontribusi santri terhadap upaya penurunan produksi sampah. Seperti diketahui santri puteri pondok pesantren berjumlah sekitar 600 orang. Sementara perkiraan produksi sampah setiap hari nya berkisar sekitar 0,5-0,8 kg, sehingga dalam 1 hari diperkirakan produksi sampah sekitar 300-480 kg. 

Hal ini menyumbangkan volume yang besar terhadap volume sampah di Kabupaten Tegal. Untuk membantu pengelolaan sampah di Kabupaten maka diharapkan santri dapat berperan membantu melakukan pemilahan sampah, yaitu memisahkan sampah organik dan anorganik yang merupakan titik tolak dari pengolahan sampah lebih lanjut.

Sampah yang tidak terkelola dengan baik akan menimbulkan menurunnya kualitas kehidupan, keindahan lingkungan, mengganggu estetika serta menjadi tempat perkembangbiakan bibit penyakit. Untuk itu penanganan sampah dari awal perlu dikenalkan kepada para santri sebagai langkah edukasi awal kepada siswa didik pada institusi pendidikan.


2# Pelatihan Pembuatan Eco Enzyme 

Salah satu edukasi pengelolaan sampah yaitu melalui pelatihan pembuatan eco enzyme. Pelatihan ini mengajarkan santri untuk mengolah sampah organik untuk dapat dimanfaatkan. Eco enzyme temuan Dr Rosukan Poompanvong, ini merupakan hasil fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran, gula (gula merah atau pohot) dan air, dengan perbandingan  3:1:10. 

Bahan organik dipilih dari sisa makanan yang benar-benar sudah dicuci bersih, adapun air dari air sumur (bukan dari PDAM). Pengelolaan harus benar-benar steril dan semua dari bahan organik, termasuk proses pengadukan sebaiknya tidak dari logam atau bahan yang tidak steril. 

Bahan diukur dengan menggunakan timbangan analitik digital. Adapun penakaran air dilakukan dengan menggunakan wadah yang memiliki ukuran ml. Bahan-bahan tersebut dimasukkan menjadi satu di dalam wadah yang bermulut lebar lalu ditutup rapat (rekomendasinya wadah bermulut lebar seperti gentong atau drum). Larutan kemudian didiamkan selama 3 bulan, dengan catatan tempat tidak berhubungan langsung dengan sinar matahari, dengan wifi, tempat aman. 

Sekitar 2 minggu buang gas sedikit untuk kemudian ditutup kembali. Eco enzyme dapat dipanen setelah 3 bulan kemudian. Manfaat eco enzyme meliputi sebagai pembersih lantai, pembersih toilet, pembersih dapurm pemberish piring dan alat makan, memurnikan udara, menyuburkan tanaman, serta mengusir hama (termasuk tikus). 

3# Pelatihan Budi Daya Maggot

Salah satu agenda perencanaan pemerintah pasca pandemic covid-19 adalah upaya pemulihan ekonomi. Hal ini mentrigger para pegiat sampah dan organisasi IAKMI dan organisasi relate lainnya untuk mengenalkan budi daya maggot sebagai upaya pemanfaatan sampah organik supaya menghasilkan nilai ekonomi.

Salah satunya adalah menggunakan sampah organik sebagai bahan dasar budi daya pakan ternak, salah satu komponen penting pada ranah peternakan. Maggot BSF (Black Soldier Fly/ lalat besar hitam yang tidak menularkan penyakit) dikenal sebagai pakan ternak yang berkualitas unggul karena mengandung protein yang kaya nutrisi.

Bahan yang dibutuhkan berupa 1) kandang untuk memproduksi telur-telur sebagai bibit maggot, minimalis ukuran sekitar 2,5m x 4m x 3m 2) media penetas telur; telur yang menetas segara dipindah ke biopond untuk media pembesaran (telur akan mudah pecah tertekan larva). 3) Biopond; dari kayu memiliki ramp miring tempat migrasi prepupa. 

Larva yang produktif dapat dipanen dan dijual, sedangkan larva yang sudah menjadi pupa akan mengalami proses perkembangan daur hidup untuk berproduksi kembali telur dan mengalami proses ulang dari telur-larva-prepupa-pupa-dan terakhir lalat. Adapun larva mati atau bungkus kepompong pupa dapat dimanfaatkan untuk pakan ikan lele.

4# Edukasi konsumsi Tablet Tambah Darah untuk Santri Puteri

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang dapat dialami oleh semua kelompok umur, terlebih pada remaja puteri usia produktif. Hal ini disebabkan setiap bulan remaja puteri rutin akan mengeluarkan darah melalui proses menstruasi sehingga praktis mengalami kekurangan volume darah pada saat menstruasi. Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada perempuan usia  15 tahun sebesar 22,7%.

Hal ini harus diimbangi dengan asupan suplemen tepat serta asupan bergizi yang juga dapat berperan didalam pencegahan stunting. Upaya edukasi kesehatan terhadap santri puteri dilakukan melalui pemberian tablet tambah darah dan pengenalan makanan sehat dan bergisi. Praktik dilakukan dengan makan buah bersama  serta minum tablet tambah darah bersama.

“Upaya ini diberikan dalam rangka mempersiapkan reproduksi sehat sehingga kelak para santri puteri akan menjadi ibu yang dapat melahirkan generasi sehat, bebas stunting sekaligus mengajarkan kepada santri untuk memilih makanan yang bergizi” urai Kurnianto.

Dari rangkaian Bhakti sosial yang cukup lama tersebut, juga bantuan stimulant peralatan praktik diharapkan para santri dapat teredukasi untuk melakukan pola hidup sehat baik kepada diri sendiri maupun lingkungannya. Dengan demikian, akan dapat menciptakan generasi sehat yang dapat produktif dan membantu dalam pengelolaan produksi sampah pada lingkungannya.







Link Pemerintahan


Link Lainnya