Diposting pada 30 April 2026, 08:02 Oleh ZUL/BS/YOP
Slawi — Setelah hampir empat
bulan bertahan dalam ketidakpastian pascabencana tanah bergerak, warga Desa
Padasari akhirnya mulai merasakan kepastian hidup yang lebih layak. Penyerahan
hunian sementara (huntara) di Desa Capar, Kecamatan Jatinegara, menjadi titik
awal pemulihan kehidupan bagi ratusan keluarga terdampak.
Sebanyak 353 unit huntara
diserahkan pada Rabu (29/4/2026). Sebelumnya, 103 unit telah lebih dulu
diberikan kepada warga menjelang Lebaran Idulfitri. Dengan demikian, total 456
unit huntara kini telah ditempati masyarakat sebagai tempat tinggal sementara
yang lebih aman dan layak.
Bagi warga, kehadiran huntara
bukan sekadar tempat berteduh, tetapi juga ruang untuk kembali menata
kehidupan. Sejak bencana 2 Februari 2026 yang merusak sekitar 900 rumah, banyak
keluarga harus berpindah-pindah dengan keterbatasan fasilitas dan ketidakpastian.
Kini, mereka mulai merasakan stabilitas dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Setiap unit huntara berukuran 3 x
6 meter dan dilengkapi fasilitas dasar, termasuk dapur di masing-masing unit.
Kawasan ini juga didukung sarana umum seperti tempat ibadah, pos kesehatan, dan
ruang bermain anak. Fasilitas tersebut memberi dampak nyata terhadap kualitas
hidup warga, terutama dalam menjaga kesehatan, kenyamanan, dan interaksi
sosial.
“Hunian ini diharapkan tidak
hanya menjadi tempat berteduh, tetapi juga memberikan rasa aman dan harapan
baru bagi masyarakat,” ujar perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum, Veriko Asyo
Yoga Nanta.
Meski demikian, kebutuhan hunian
masih belum sepenuhnya terpenuhi. Dari total sekitar 900 rumah terdampak, masih
ada warga yang menunggu penanganan lanjutan. Pemerintah Kabupaten Tegal terus
mendorong percepatan pembangunan berikutnya.
Bupati Tegal Ischak Maulana
Rohman menegaskan bahwa penyediaan huntara merupakan langkah awal, sementara
solusi jangka panjang tetap menjadi prioritas utama. “Kebutuhan kita sekitar
900 unit. Harapannya ke depan dapat segera direalisasikan, bahkan jika memungkinkan
langsung ke hunian tetap agar masyarakat tidak perlu berpindah dua kali,”
jelasnya.
Selain hunian, perhatian juga
diberikan pada pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya ketersediaan air bersih.
Hal ini menjadi krusial mengingat kawasan huntara akan menghadapi musim kemarau
dalam waktu dekat.
“Air adalah kebutuhan primer.
Kami mendorong agar koordinasi terus dilakukan sehingga kebutuhan air bersih
masyarakat tetap terpenuhi,” tegas Bupati.
Dengan kapasitas total 456 unit
di atas lahan sekitar 47.000 meter persegi, kawasan huntara di Desa Capar
dirancang sebagai lingkungan sementara yang tetap layak huni. Penataan ini
diharapkan mampu menjaga stabilitas kehidupan warga sambil menunggu pembangunan
hunian tetap (huntap) direalisasikan.
Bagi masyarakat terdampak, huntara bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal untuk bangkit. Di tengah keterbatasan, mereka kini memiliki tempat untuk kembali menyusun harapan—menanti rumah permanen yang akan menjadi pijakan baru kehidupan mereka ke depan.