♣   SMSLaporBupati di 085.6000.8070.9  ♣  
Home | Artikel | KAJIAN EPIDEMIOLOGI, FAKTOR RESIKO DAN PERKEMBANGAN MUTASI VIRUS FLU BURUNG H5N1
2017-10-02 08:03:14

Oleh : Patriawati  Narendra, SKM *)

Flu burung adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas. Penyakit flu burung yang ditularkan oleh virus Avian Influenza jenis H5N1 pada unggas dikonfirmasikan telah terjadi di Republik Korea, Vietnam, Jepang, Thailand, Komboja, Taiwan, Laos, China, Indonesia dan Pakistan. Sumber virus diduga berasal dari migrasi burung dan tranportasi unggas yang terinfeksi. (Balitbang Depkes, 2005).

Diawali pada tahun 1918 dunia dikejutkan oleh wabah pandemi yang disebabkan virus influenza, yang telah membunuh lebih dari 40.000 orang, dimana subtipe yang mewabah saat itu adalah virus H1N1 yang dikenal dengan "Spanish Flu". Tahun 1957 kembali dunia dilanda wabah global yang disebabkan oleh kerabat dekat virus yang bermutasi menjadi H2N2 atau yang dikenal dengan "Asian Flu" yang telah merenggut 100.000 jiwa meninggal. Pada tahun 1968, virus flu kembali menyebabkan wabah pandemi dengan merubah dirinya menjadi H3N2. Mutan virus yang dikenal dengan "Hongkong Flu" ini telah menyebabkan 700.00 orang meninggal dunia.

Influenza  virus H5N1, yang juga dikenal sebagai "flu burung", A (H5N1) atau hanya H5N1, adalah subtipe dari virus influenza A yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan banyak spesies hewan lain. Sebuah strain burung diadaptasi H5N1, yang disebut HPAI A (H5N1) untuk "sangat patogen virus flu burung dari tipe A subtipe H5N1 dari", adalah agen penyebab flu H5N1, umumnya dikenal sebagai "flu burung" atau "flu burung". Hal ini enzootic pada populasi burung banyak, terutama di Asia Tenggara. Salah satu strain HPAI A (H5N1) menyebar secara global setelah pertama kali muncul di Asia. Ini adalah epidemi (wabah di nonhumans) dan panzootic (mempengaruhi hewan banyak spesies, terutama di daerah yang luas), membunuh puluhan juta burung dan memacu pemusnahan ratusan juta orang lain untuk membendung penyebarannya. Jika terjadi pandemi, jumlah orang yang meninggal akan sangat besar, hal tersebut akan berimbas dan berdampak pada sektor ekonomi dan sosial yang kemudian apabila tidak ditangani secara serius akan menjadi krisis kesehatan di seluruh dunia.

Virus avian influenza termasuk famili Orthomyxoviridae dengan genus influenza yang terdiri dari 3 tipe yaitu: A, B dan C. Virus avian influenza merupakan virus RNA yang single-stranded. Genomnya terdiri dari 8 segmen yang mengkode 10 protein. Diameter virus sekitar 80 X 120 nm. Karakteristik virus ini berkapsul yang mengandung glikoprotein dan merupakan antigen permukaan. Terdapat 2 jenis protein permukaan yaitu hemaglutinin (HA) dan neuraminidase (NA). Hemaglutinin bersifat mengaglutinasi sel darah merah dan berfungsi untuk melekat, menginvasi sel hospes dan kemudian bereplikasi. Nueraminidase merupakan suatu enzim untuk memecahkan ikatan partikel virus sehingga virus baru terlepas dan dapat menginfeksi sel baru yang lain.

Virus Avian Influenza Tipe H5N1 atau dikenal dengan istilah flu burung pada awalnya diketahui hanya bisa menular antar sesama unggas saja, kemudian virus ini menciptakan mutasi gen baru yang dapat juga menyerang pada manusia. Mutasi dari virus ini dapat menginfeksi manusia yang berkontak langsung dengan sekresi unggas yang telah terinfeksi. Manusia yang cenderung memiliki resiko tertinggi untuk tertular adalah anak-anak karena memiliki daya tahan tubuh yang lebih lemah, pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas, dan pemilik unggas peliharaan di rumah. Penderita (dalam hal ini manusia) yang diduga mengidap virus ini disebut penderita suspect flu burung dimana penderita pernah mengunjungi peternakan yang berada di daerah terjangkit flu burung, atau bekerja dalam laboratorium yang sedang meneliti kasus flu burung atau berkontak dengan unggas dalam waktu beberapa hari terakhir.

 

                               Gambar 1. Mekanisme Penularan Flu Burung

 

Menurut WHO cara yang digunakan untuk mengontrol penyebaran infeksi antara lain dengan mengisolasi individu yang terdiagnosa dan mengkarantina penderita yang dicurigai terkena virus tersebut. Selama program isolasi dan diagnosa tersebut pasien mendapat perawatan medis yang terbaik termasuk didalamnya pemberian vaksin bagi pasien.

Flu burung adalah  penyakit menular pada spesies unggas yang disebabkan virus influenza tipe A dengan berbagai subtipe. Burung liar/migratory waterfowl merupakan reservoir alamiah virus avian influenza di dalam saluran cernanya dan tidak menimbulkan gejala penyakit. Lain halnya dengan burung peliharaan, ternak domestik termasuk ayam dan kalkun sangat rentan terhadap virus ini sampai menimbulkan kematian. Gejala penyakit bervariasi dari ringan sampai berat. Bila virus avian influenza yang patogenitasnya rendah berulang kali menginfeksi ternak, maka ia akan bermutasi menjadi sangat patogen dan dapat menular ke manusia yang kemudian menyebabkan epidemi flu burung.

 Penyakit flu burung atau flu unggas (Avian influenza) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas. Penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus avian infuenza jenis H5N1 pada unggas dikonfirmasikan telah terjadi di Republik Korea, Vietnam, Jepang, Thailand, Kamboja, Taiwan, Laos, China, Indonesia dan Pakistan. Sumber virus diduga berasal dari migrasi burung dan transportasi unggas yang terinfeksi.  Virus influenza termasuk famili Orthomyxoviridae. Virus influenza tipe A dapat berubah-ubah bentuk (Drift, Shift), dan dapat menyebabkan epidemi dan pandemic, yang terdiri dari Hemaglutinin (H) dan Neuramidase (N), kedua huruf ini digunakan sebagai identifikasi kode subtipe flu burung yang banyak jenisnya. Pada manusia hanya terdapat jenis H1N1, H2N2, H3N3, H5N1, H9N2, H1N2, H7N7. Sedangkan pada binatang H1-H5 dan N1-N9. Strain yang sangat virulen/ganas dan menyebabkan flu burung adalah dari subtipe A H5N1. Virus tersebut dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 220 C dan lebih dari 30 hari pada 00 C. Virus akan mati pada pemanasan 600 C selama 30 menit atau 560 C selama 3 jam dan dengan detergent, desinfektan misalnya formalin, serta cairan yang mengandung iodine.

Virus ini sebenarnya tidak berpotensi menjadikan KLB, tetapi telah terjadi KLB pada tahun 2004 yang meluas ke Asia. Dimulai dari Jepang, Korea, Cina, Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand hingga Indonesia. Jutaan ternak mati atau dimusnahkan. Di sektor kesehatan masyarakat menjadi prihatin dengan jatuhnya korban manusia akibat virus yang mematikan ini. Pada flu burung ini ang ka kematian tertinggi pada kelompok umur dibawah 15 tahun. Kasus flu burung pada manusia terbukti secara laboratories dengan adanya DNA yang disekuens, serta hasilnya menunjukkan bahwa didalam tubuhnya telah ditemukan virus influenza H5N1 yang menyebabkan penyakit dan kematian. Meskipun kejadian penularan dari unggas ke manusia saat ini belum sampai pada skala besar, tetapi secara berkelanjutan kejadiannya semakin sering. Yang perlu dikhawatirkan adalah terjadinya perubahan sifat genetik virus yang disebut genetic reassortment. Virus influenza H5N1 pada awalnya diperkirakan penyebarannya melalui burung -burung liar yang secara periodik melakukan migrasi pada setiap perubahan musim. Virus kemudian menular ke peternakan unggas. Pada awalnya virus itu hanya mampu menginfeksi dan menyebabkan  kematian dalam waktu singkat pada unggas, kemudian pada babi dan binatang-binatang lainnya. Kedekatan manusia dan unggas salah satu faktor timbulnya genetic reassortment. Perubahan ini memberi kemampuan H5N1 untuk menembus sel tubuh manusia dan menyebabkan sakit, serta merusak si stem pernafasan dan pada kasus berat berakhir dengan kematian. Jadi semakin banyak manusia/masyarakat berhubungan dengan unggas yang sakit, semakin besar kemungkinan terjadinya genetic reassortment. Flu burung atau Avian Influenza adalah penyakit yang mampu melintas batas ( transboundary disesase), sehingga potensi endemisitas dan pandeminya tinggi. Salah satu cara mencegah genetic reassortment dengan cara biosecurity diperternakan unggas lebih ketat dan tidak hanya menyemprotkan obat desinfektan saja tetapi melengkapi para pekerja unggas ini. dengan Alat Pelindung Diri (APD) berupa sarung tangan, masker, sepatu boot, baju pelindung, kaca mata serta topi. Yang terpenting dari itu semua adalah mengubah sikap dan perilaku peternak unggas terhadap tindakan biosecurity sendiri. Masa inkubasi pada unggas 1 minggu dan pada manusia berlangsung 1-3 hari, masa infeksi 1 hari sebelum sampai 3-5 hari sesudah timbul gejala, pada anak -anak mencapai 21 hari.

Penyakit flu burung pada manusia mempunyai tingkat keganasan (virulensi) yang paling membahayakan di antara penyakit infeksi menular lainnya (HIV/AIDS, Malaria, dan lain-lain). Tingkat kematian akibat penyakit flu burung angka kejadiannya sangat tinggi dibandingkan dengan penyakit menular lainnya mencapai 81,7% di Indonesia. Masa inkubasi penyakit flu burung pada manusia sangat cepat yaitu 1-10 hari. Identifikasi tanda dan gejala klinik penyakit flu burung di awali dengan ISPA dengan keluhan demam (temperatur ≥ 38 derajat Celcius), batuk, sakit tenggorokan, atau beringus. Kadang kala sebagian besar kelompok masyarakat menganggap biasa-biasa saja. Implikasinya dengan waktu yang sangat cepat penyakit flu burung menyebar ke berbagai wilayah melintasi negara. 

Triangle of epidemiology khususnya pada environtment sangat berpengaruh sekali terhadap penyebaran penyakit flu burung. Lingkungan memegang peranan yang cukup signifikan bagi laju penularan kasus flu burung, faktor lingkungan fisik seperti suhu, kelembaban, musim, jarak rumah ke kandang, saluran air limbah rumah tangga, kedalaman sumber air rumah tangga, saluran air limbah kotoran unggas, kebersihan kandang ternak dan kebersihan rumah memberikan andil bagi  penyebaran penyakit flu burung. Orientasi kandang ternak ayam/unggas merupakan perspektif sumber penularan H5NI karena tempat hidup virus tersebut dalam kotoran unggas. Maka higiene dan sanitasi lingkungan sekitar rumah termasuk kandang ternak harus tetap dipelihara secara rutin dan benar sebagai bentuk upaya pencegahan.

Selain faktor lingkungan fisik, faktor biologis atau virus Avian Influenza juga sangat dominan bagi penyebaran kasus. Faktor sosial yaitu kebiasaan masyarakat memakan daging mentah untuk dapat ditekan dengan bantuan Tokoh Agama , Tokoh masyarakat dalam  menyampaikan himbauan dan penyuluhan kepada masyarakat.

Proses penyebaran flu burung belum sepenuhnya dipahami. Bebek dan angsa yang merupakan ordo Anseriformes serta flu burung camar dan burung laut dari ordo Charadriiformes adalah pembawa (carrier) virus influenza A subtipe H5 dan H7. Virus yang dibawa oleh unggas ini umumnya kurang ganas (LPAIV). Unggas air liar ini juga menjadi reservoir alami untuk semua virus influenza. Diperkirakan penyebaran virus flu burung karena adanya migrasi dari unggas liar tersebut.

Beberapa cara penularan virus flu burung yang mungkin terjadi :

1.       Penularan Antar Unggas

Flu burung dapat menular melalui udara yang tercemar virus H5N1 yang berasal dari kotoran unggas yang sakit. Penularan juga bisa terjadi melalui air minum dan pasokan makanan yang telah terkontaminasi oleh kotoran yang terinfeksi flu burung. Di peternakan unggas, penularan dapat terjadi secara mekanis melalui peralatan, kandang, pakaian ataupun sepatu yang telah terpapar pada virus flu burung (H5N1) juga pekerja peternakan itu sendiri. Jalur penularan antar unggas di peternakan, secara berurutan dari yang kurang berisiko sampai yang paling berisiko adalah melalui :

i. Pergerakan unggas yang terinfeksi

ii. Kontak langsung selama perjalanan unggas ke tempat pemotongan

iii. Lingkungan sekitar (tetangga) dalam radius 1 km

iv. Kereta/lori yang digunakan untuk mengangkut makanan, minuman unggas dan lain-lain

 v.  Kontak tidak langsung saat pertukaran pekerja dan alat-alat

 

2.       Penularan dari Unggas Ke Manusia

Penularan virus flu burung dari unggas ke manusia dapat terjadi ketika manusia kontak dengan kotoran unggas yang terinfeksi flu burung, atau dengan permukaan atau benda-benda yang terkontaminasi oleh kotoran unggas sakit yang mengandung virus H5N1.

Orang yang berisiko tinggi tertular flu burung adalah :

 i. Pekerja di peternakan ayam

 ii. Pemotong ayam

iii. Orang yang kontak dengan unggas hidup yang sakit atau terinfeksi flu burung

 iv. Orang yang menyentuh produk unggas yang terinfeksi flu burung

 v. Populasi dalam radius 1 km dari lokasi terjadinya kematian unggas akibat flu burung

3.       Penularan Antar Manusia

Pada dasarnya sampai saat ini, H5N1 tidak mudah untuk menginfeksi manusia dan apabila seseorang terinfeksi, akan sulit virus itu menulari orang lain. Pada kenyataannya, penularan manusia ke manusia, terbatas, tidak efisien dan tidak berkelanjutan.

Secara teoritis, model penularan  ini dapat terjadi oleh karena ketahanan virus H5N1 di alam atau lingkungan. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti mekanisme penularan flu burung pada manusia namun diperkirakan melalui saluran pernapasan karena dari hasil penelitian didapatkan reseptor H5N1 pada saluran napas manusia terutama saluran napas bagian bawah dan setiap orang memiliki jumlah reseptor yang berbeda-beda, sedangkan pada saluran percernaan ditemukan reseptor dalam jumlah yang sangat sedikit namun belum bisa dibuktikan penularan flu burung melalui saluran pencernaan dan ada referensi yang mengatakan bahwa reseptor H5N1 pada manusia hanya terdapat pada saluran pernapasan jadi hal ini masih diperdebatkan. Kotoran unggas, biasanya kotoran ayam yang digunakan sebagai pupuk, menjadi salah satu faktor risiko penyebaran.

 

Gambar 2. Gejala Flu Burung

 

Pergerakan keluar masuknya alat angkut seperti truk dan mobil pengangkut tcrnak atau produknya serta boks kemasan harus diwaspadai karena dapat sebagai media penularan virus flu burung, terutama jika alat angkut tersebut selain digunakan di dalam wilayah juga digunakan keluar wilayah. Avian Influenza merupakan virus yang bersifat zoonosis dan memiliki mutasi yang sehingga memiliki dampak sosial, ekonomi, dan politik yang cukup besar.

Penyakit ini dapat menular melalui udara yang tercemar virus H5N1 yang berasal dari kotoran atau sekret burung/unggas yang menderita flu burung. Penularan unggas ke manusia juga dapat terjadi jika manusia telah menghirup udara yang mengandung virus flu burung (H5N1) atau kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung.

Virus flu burung (H5N1) dapat menyebar secara langsung pada beberapa mamalia yang berbeda yaitu babi, kuda, mamalia yang hidup di laut, familia Felidae (singa, harimau, kucing) serta musang (stone marten).

A.    Kajian Epidemiologi Flu Burung

Pertama kali virus avian influenza ditemukan pada tahun 1878 di Itali, menyebabkan epidemi penyakit Fowl Plague pada ternak ayam dengan angka kematian 100%. Wabah berikutnya, di Amerika Serikat pada tahun 1983-1984 yang menimbulkan kematian sekitar 17 juta ternak ayam dengan kerugian mencapai sekitar 70 juta dolar Amerika. Sebelumnya virus avian  influenza hanya menyerang kelompok unggas. Baru pertama kali pada tahun 1997 di Hong Kong terjadi wabah flu burung yang disebabkan virus avian  influenza H5N1 yang patogen. Ketika itu telah terjadi penularan virus H5N1 dari spesies unggas ke manusia. Wabah flu burung tersebut menyebabkan enam penderita meninggal dari 18 kasus flu burung.  Kini virus H5N1 terbukti dapat menginfeksi babi, harimau, macan tutul dan kucing. Pada Februari 2003 virus avian influenza A subtipe H7N7 mulai menyerang daratan Eropa terutama Belanda. Wabah flu burung ini mengakibatkan seorang meninggal dunia dari 89 penderita.  Pada akhir tahun 2003 sampai awal tahun 2004, wabah flu burung yang disebabkan virus H5N1 kembali merebak di berbagai negara Asia meliputi Korea Selatan, Jepang, China, Vietnam, Thailand, Kamboja dan Laos. Sedikitnya 100 juta ternak ayam  telah dimusnahkan untuk menghentikan  penularan. Wabah  ini telah menginfeksi 35 orang dan  mengakibatkan 24 penderita meninggal dunia. Kemudian wabah flu burung dengan cepat menjalar ke beberapa negara Asia Tenggara lainnya termasuk Indonesia. Sejak kasus flu burung pertama di Indonesia yang mengakibatkan meninggalnya seorang ayah beserta kedua anaknya pada pertengahan bulan Juli 2005 lalu, tingkat kewaspadaan sistem surveilan ditingkatkan baik di masyarakat maupun di institusi kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas dan yang lainya. Menurut laporan terakhir WHO, awal November 2005, data kumulatif kasus avian influenza A (H5N1) yaitu 122 kasus, dengan 62 penderita meninggal. Prevalensi tertinggi flu burung terjadi di Vietnam, terdapat 91 kasus, meninggal 41 penderita; disusul Thailand 20 kasus, meninggal 13 penderita; Indonesia 7 kasus, meninggal 4 penderita dan Kamboja terdapat 4 kasus yang keseluruhannya meninggal dunia.

Kejadian  influenza A dipengaruhi oleh faktor pejamu (host), penyebab (agent) dan lingkungan (environment). Faktor pejamu meliputi imunitas seseorang yang dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin dan status gizi. Faktor agent adalah adanya virus influenza A yang penyebarannya cukup luas. Faktor lingkungan meliputi adanya sumber penular yaitu orang yang terinfeksi virus influenza A serta keberadaan unggas yang terinfeksi virus influenza A. Faktor perilaku mempunyai pengaruh terhadap terjadinya influenza yaitu perilaku hygiene dan sanitasi yang baik akan mengurangi penularan influenza. Selain itu faktor pelayanan kesehatan berpengaruh terhadap penyebaran virus, dengan peningkatan pendidikan masyarakat agar mengurangi kontak kepada penderita influenza maka penularan dapat dibatasi.

Transmisi virus influenza lewat partikel udara dan lokalisasinya di traktus respiratorius. Penularan bergantung pada ukuran partikel (droplet) yang membawa virus tersebut masuk ke dalam saluran napas. Penularan dari virus influenza secara umum dapat terjadi melalui inhalasi, kontak langsung taupun kontak tidak langsung. Pada dosis infeksi 10 virus/droplet 50 % orang-orang yang terserang dosis ini akan menderita influenza.

Faktor resiko flu burung adalah ketika kontak dengan unggas yang sakit atau kontak dengan permukaan yang terkontak dengn pihak yang memiliki risiko tinggi tertular avian influenza adalah : dokter hewan, peternak, petugas kandang, laboran sampel unggas, orang yang bekerja di tempat pemotongan atau pengolahan unggas, pengolahan pupuk kandang, pencabutan bulu, pedagang unggas hidup, pedagang daging unggas, dan anak-anak di bawah usia 12 tahun karena sistem kekebalan tubuh yang belum kuat terkontaminasi air liur dan kotoran milik unggas yang terinfeksi.

Kejadian influenza A dipengaruhi oleh penyebab (agent), faktor pejamu (host), dan lingkungan (environment).

1. Faktor agent

    Faktor agent adalah adanya virus influenza A yang penyebarannya cukup   

     luas.

2. Faktor Manusia dan hewan

Faktor manusia meliputi imunitas seseorang yang dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin dan status gizi.

a. Manusia

1). Umur

Influenza merupakan penyakit yang dapat menjalar dengan cepat di lingkungan masyarakat. Walaupun ringan penyakit ini tetap berbahaya untuk mereka yang berusia sangat muda dan orang dewasa dengan fungsi kardiopulmoner yang terbatas. Juga pasien yang berusia lanjut dengan penakit ginjal kronik atau gangguan metabolik endokrin dapat meninggal akibat penyakit yang dikenal sebagai penyakit yang tidak berbahaya ini.

2). Jenis kelamin

   Semua jenis kelamin dapat terinfeksi virus influenza.

b. Hewan

Manusia merupakan reservoir utama untuk infeksi yang terjadi pada manusia, namun demikian reservoir mamalia seperti babi dan burung merupakan sumber subtipe baru pada manusia yang muncul karena pencampuran gen (gene reassortmen). Subtipe baru dari suatu strain virus virulen dengan surface antigens baru mengakibatkan pandemik influenza yang menyebar terutama kepada masyarakat rentan. Faktor risiko adalah daerah yang padat penduduk pada ruangan tertutup, seperti dalam bis, penularan dapat juga terjadi dengan kontak langsung. Faktor risiko kejadian Influenza A dipengaruhi adanya kontak orang sehat kepada sumber penularan yaitu unggas yang teserang AI beserta produknya atau penderita influenza A. Penularan dari orang ke orang melalui droplet sedangkan dari unggas dikarenakan kontak dengan unggas atau produknya yang terkontaminasi virus influenza yang terhirup oleh penderita.

3. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan meliputi adanya sumber penular yaitu orang yang terinfeksi virus influenza A serta keberadaan unggas yang terinfeksi virus influenza A. Faktor perilaku mempunyai pengaruh terhadap terjadinya influenza yaitu perilaku hygiene dan sanitasi yang baik akan mengurangi penularan influenza. Selain itu faktor pelayanan kesehatan berpengaruh terhadap penyebaran virus, dengan peningkatan pendidikan masyarakat agar mengurangi kontak kepada penderita influenza maka penularan dapat dibatasi. Faktor lingkungan meliputi keberadaan unggas dan produknya, serta musim. Faktor risiko kejadian Influenza A dipengaruhi adanya kontak orang sehat kepada sumber penularan yaitu unggas yang teserang AI beserta produknya atau penderita influenza A. Penularan dari orang ke orang melalui droplet sedangkan dari unggas dikarenakan kontak dengan unggas atau produknya yang terkontaminasi virus influenza yang terhirup oleh penderita. Faktor lingkungan meliputi keberadaan unggas dan produknya, serta musim.

4. Faktor Perilaku

Faktor perilaku meliputi kebiasaan menjaga higiene perorangan yaitu

dengan mencuci tangan pakai sabun setelah kontak dengan unggas akan

mematikan virus yang menempel pada tangan, kebiasaan mengelola unggas

yang sakit atau mati serta kebiasaan mengkonsumsi unggas sakit/mati yang

dimasak kurang sempurna.

Faktor perilaku meliputi kebiasaan menjaga higiene perorangan yaitu dengan mencuci tangan pakai sabun setelah kontak dengan unggas akan mematikan virus yang menempel pada tangan, kebiasaan mengelola unggas yang sakit atau mati serta kebiasaan mengkonsumsi unggas sakit/mati yang dimasak kurang sempurna.

Indonesia merupakan negara dengan jumlah kematian akibat infeksi oleh avian influenza yang terbesar di dunia yang mewabah sejak tahun 2003. Kerugian yang diakibatkan oleh wabah ini pada manusia dan industri ternak unggas sangat besar.1 Virus, termasuk di dalamnya avian influenza, memiliki tingkat mutasi yang sangat tinggi. Mutasi virus dapat menyebabkan peningkatan patogenitas, perubahan sifat antigenik dan spesifitasnya terhadap hospes.

Virus influenza dapat bertahan pada air minum unggas selama 8 sampai 48 jam, dan sangat tergantung juga pada kandungan chlor dan zat organik yang lain. Hal ini sangat mungkin terjadi karena kandungan virus pada trakea lebih tinggi dibandingkan pada feses.

Rentang inang dan patogenitas virus avian influenza bersifat poligenik. Faktor determinan yang menentukan rentang inang dan patogenitas pada virus avian influenza terdapat pada gen HA, PB1, PB2, PA, NA dan NS.3,4 Sedangkan faktor yang berperan dalam perubahan spesifitas dan adaptasi pada inang adalah gen polimerase (PA, PB1 dan PB2). Perubahan sebaran inang virus AI ditemukan terjadi dalam 2 mekanisme yaitu shift (cepat) dan drift (lambat). Shift antigenik terjadi karena gene reassortment (pertukaran atau pencampuran gen) yang terjadi pada 2 atau lebih virus influenza tipe A sehingga terjadi pembentukan galur virus baru. Drift antigenik merupakan perubahan stuktur antigenik minor pada antigen permukaan H dan/atau N. Drift antigenik ini berlangsung lambat, progresif dan cenderung terbatas persebarannya. Gene rearrangement diduga berperan besar dalam mekanisme timbulnya strain virus influenza baru pada mamalia yang bersifat pandemik.

Evolusi virus H5N1 terjadi secara terusmenerus terutama pada glikoprotein permukaan virus dan pada segmen gen lainnya. Keragaman virus merupakan hasil dari akumulasi perubahan molekul pada delapan segmen RNA, yang terjadi melalui mekanisme mutasi titik (antigenic drift), gene reassortment (antigenic shift), defective-interfering particles, dan rekombinasi RNA. Setiap mekanisme ini berkontribusi terhadap evolusi virus AI. Mutasi, termasuk substitusi, delesi, dan insersi merupakan salah satu mekanisme paling penting dalam menghasilkan variasi virus influenza. .  Individu manusia yang terinfeksi virus H5N1 dapat sembuh dengan perawatan dan karantina yang optimal dan dianggap bahwa manusia yang sembuh dari infeksi virus H5N1 ini akan kembali terinfeksi atau terjangkit dari virus H5N1 karena mengingat sifat dan tipe dari virus H5N1 yang mudah untuk bermutasi.

 

Gambar 4.  Skema Virus H5N1

 

Virus AI dari Indonesia membentuk sublineage yang berbeda dari virus H5N1 genotipe Z. Virus ini diduga berasal dari sumber tunggal yang kemudian menyebar ke seluruh Indonesia (Smith et al. 2006). Smith et al. (2006) menyatakan, sebagian besar virus AI dari Indonesia mempunyai motif rangkaian asam amino basa pada daerah cleavage site yang merupakan karakter dari virus HPAI, yaitu PQRERRRKKR/G. Sekuen asam amino pada cleavage site sebagai penanda patogenisitas virus AI, sebagian besar mempunyai motif rangkaian asam amino basa yang menunjukkan HPAI. Pada tahun 2003-2005, sebagian besar isolat virus AI dari unggas di Indonesia menunjukkan motif PQRERRRKKR//G. Namun pada Maret 2005, Dharmayanti dan Indriani (2007) menemukan isolat virus AI dari unggas yang mengalami mutasi R→S pada posisi -6 HA sehingga mempunyai motif PQRESRRKKR//G. Tiga bulan setelah itu, pada Juni 2005, untuk pertama kalinya di Indonesia terdapat kasus manusia yang terinfeksi AI dan sekuen cleavage site virus ini sama dengan motif isolat yang ditemukan Dharmayanti dan Indriani (2007). Studi evolusi virus AI sangat penting untuk mengetahui jenis seleksi yang mengendalikan gen, terutama pada protein HA yang berhubungan dengan evolusi virus untuk memprediksi galur vaksin. Dharmayanti (2009) melaporkan, sebagian besar mutasi kemungkinan diakibatkan oleh seleksi positif pada protein hemaglutinin. Virus H5N1 Asal Unggas dan Kasus Manusia Terinfeksi H5N1 Virus H5N1 yang diisolasi dari unggas atau lingkungan di sekitar manusia yang terinfeksi H5N1 memberi petunjuk epidemiologi asal infeksi virus ini. Hasil penelitian Dharmayanti (2009) dan Dharmayanti et al. (2011a) tentang karakter virus H5N1 yang diisolasi dari unggas dan di sekitar manusia yang terinfeksi virus H5N1 menunjukkan mutasi spesifik tidak banyak ditemui pada virus H5N1 Indonesia atau virus di luar Indonesia. Dharmayanti (2009) menyatakan, virus H5N1 yang dianalisis masih mengenal avian receptor (α2-3) dan belum mengenal human receptor (α2-6) (Stevens et al. 2006) sehingga infeksi pada manusia kemungkinan akibat tertular unggas yang terlebih dahulu terinfeksi virus H5N1. Berkaitan dengan virulensi, C-terminal virus AI protein NS1 memiliki urutan konsensus dari PDZ domain ligand. Motif yang dapat terikat ke PDZ mengandung protein yang terlibat dalam jalur sinyal seluler inang. Hasil penelitian Dharmayanti et al. (2011a) memperlihatkan bahwa empat dari enam virus yang digunakan mempunyai motif PDZ "ESEV", yang menunjukkan virus berasal dari unggas. Dua virus lainnya mempunyai motif asal manusia (human origin), yaitu virus Inhu/BPPVRII/07 dengan motif KSEV, seperti halnya motif PDZ dari virus 1918. Motif KSEV adalah motif yang jarang ditemukan di alam, tetapi pada tahun 2005 tercatat dua virus H5N1 Indonesia mempunyai motif tersebut dan juga virus H5N1 tahun 2007 yang diisolasi di Arab (Monne et al. 2008). Virus lainnya yang mempunyai motif PDZ seperti motif virus influenza manusia adalah virus Pessel/BPPVRII/07 yang mempunyai motif RSEV. Virus Pessel/BPPVRII/07 dan Inhu/BPPVRII/07 diisolasi dari ayam di sekitar kasus infeksi virus AI H5N1 pada manusia dan ternyata mempunyai karakter genetik pada NS1 yang mungkin berkorelasi dengan adaptasi virus pada manusia. Dharmayanti (2009) juga menemukan adanya delesi pada posisi 80-84 pada lima dari enam virus, kecuali virus Pessel/BPPVRII/07. Delesi residu lima asam amino berkontribusi dalam meningkatkan virulensi. Semua virus yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai asam aspartat pada posisi 92, bukan asam glutamat pada molekul NS1. Asam glutamat pada posisi 92 merupakan faktor penting dalam virulensi dan resistensi terhadap sitokin antiviral. Namun, virus H5N1 dengan asam amino residu ini tidak lagi beredar di alam dan asam glutamat tidak ditemukan pada protein NS1 virus influenza tipe A. Hasil penelitian menunjukkan virus Pessel/BPPVRII/07 mempunyai kemiripan kesamaan sekuen asam amino dan kedekatann yang tinggi berdasarkan analisis filogenetik dengan virus HK/497/97, dan HK/498/97, yang merupakan virus H3N2. Virus Pessel/BPPVRII/07 memiliki HA, NA, dan M yang berasal dari virus H5N1 Indonesia, sedangkan protein NS1 berasal dari virus H3N2 Hong Kong. Hasil ini memperlihatkan bahwa virus Pessel/ BPPVRII/07 telah mengalami genetic reassorment sehingga kemungkinan virus Pessel/BPPVRII/07 merupakan virus reassortant. Virus reassortant di Indonesia pernah dilaporkan oleh Yuk Lam et al. (2008), namun dalam penelitiannya tidak ditemukan virus reassortant antarstrain atau campuran genetik dari strain yang berbeda. Penemuan virus Pessel/BPPVRII/07 sebagai virus reassortant antara H5N1 dan H3N2 di Indonesia mungkin adalah yang pertama kali dilaporkan. Hal ini mengisyaratkan bahwa pemerintah harus semakin serius mengendalikan penyakit ini mengingat pandemi influenza pada tahun 2009 merupakan pandemi novel H1N1. Situasi virus H5N1 di Indonesia yang telah menjadi penyakit endemis memerlukan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya genetic reassortment antara virus H5N1 dan novel H1N1 (yang sekarang menjadi wabah di dunia) maupun virus influenza lainnya, seperti H1N1/H3N2 seasonal flu, yang dapat menyebabkan virus H5N1 lebih mudah beradaptasi pada manusia. 

Pemelihara unggas dan peternak hendaknya menghindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinfeksi flu burung antara lain dengan menggunakan alat pelindung diri (masker, sepatu, kaca mata, dan topi serta sarung tangan). Mereka yang terbiasa kontak dengan unggas, melepaskan sepatu, sandal atau alas kaki lainnya di luar rumah, membersihkan alat pelindung diri dengan deterjen dan air hangat. Selain itu, benda yang tidak bisa kita bersihkan dengan baik dapat dimusnahkan. Pada penelitian selanjutnya diperlukan pertanyaan tentang penggunaan alat pelindung diri saat kontak dengan unggas dan saat membersihkan kandang unggas. Dengan demikian, akan didapatkan informasi tentang besar risiko penularan flu burung pada masyarakat yang sering melakukan kontak langsung dengan unggas dan saat membersihkan kandangnya.

Lingkungan kandang perlu dibersihkan setiap hari dengan menggunakan desinfektan. Untuk itu, diperlukan desinfektan yang murah dan terjangkau bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah. Selanjutnya, masyaraat dihimbau agar dapat menerapkan  kebiasaan menggunakan masker, sepatu, kaca mata, dan topi serta sarung tangan sebagai pelindung untuk menghindari masuknya virus Avian Influenza melalui pernapasan maupun anggota tubuh lain serta mengenai jarak kandang yang merupakan sumber pencemar ke sumber air minum.

Komponen lingkungan sebagai faktor risiko kejadian luar biasa penyakit flu burung pada manusia adalah jenis pekerjaan, pekerjaan anggota keluarga serumah, aktivitas kontak tinggi, jenis kontak, jumlah kontak, kontak erat, aktivitas kepantai, jarak rumah ke kandang ternak, saluran air limbah rumah tangga, kedalaman sumber air rumah tangga, saluran air limbah kotoran unggas, kebersihan kandang ternak, dan kebersihan rumah.

Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu mengenai sembilan komponen lingkungan lainnya (income, jenis pekerjaan, jenis kontak, jumlah kontak, kontak erat, jarak kandang, saluran air limbah rumah tangga, kedalaman air rumah tangga, jarak saluran air kotoran unggas, kucing peliharaan, dan unggas liar).

Saran bagi petugas kesehatan perlu melakukan penyuluhan tentang influenza A agar masyarakat bisa tahu cara penanggulangan influenza A faktor apa yang dapat menyebabkan terjadinya influenza A dan meningkatkan upaya promotif dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang influenza A sehingga masyarakat lebih waspada bagi masyarakat hendaknya :

1.        Mengurangi kontak dengan penderita flu/influenza, dengan cara membatasi kontak dengan penderita influenza.

2.         Bagi penderita flu/influenza agar menutup hidung dan mulut   pada waktu bersin atau batuk, sehinga mengurangi penyebaran virus.

3.         Mengurangi kontak dengan unggas, dengan cara tidak  melakukan kontak dengan unggas bila tidak perlu dan memisahkan kandang unggas dengan rumah.

4.        Jika terlanjur kontak dengan unggas atau produknya harus cuci tangan dengan deterjen.

 

*) Staf P3A dan P2KB  Kab Tegal

 

Artikel Lainnya

Oleh  Toto Subandriyo
Pengajar Mata Kuliah Perilaku dan Budaya Organisasi
Program Magister Manajemen STIE Bank BPD Jateng

Miris rasanya mengikuti perkembangan berita pengungkapan praktik korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu terakhir terhadap para penyelenggara negara. Operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK pada awal tahun ini terhadap Bupati Klaten Sri Hartini rupanya tidak serta merta membuat nyali para koruptor ciut. Alih-alih merasa ciut dan jera, peristiwa serupa justru terulang dan terulang lagi di kemudian hari. OTT lagi, OTT lagi...

Detail artikel »

Oleh : Patriawati Narendra, SKM  *)

Era globalisasi seperti sekarang ini semakin memudahkan kita dalam mengkonsumsi berbagai makan dan minuman yang mengandung karbohidrat, mengandung kalori dengan jumlah yang cukup tinggi, restoran, fast food, makanan instan dan sejumlah kedai, kafe yang semakin menjamur dan ratusan jumlahnya tentunya akan membuat tantangan tersendiri bagi kita dalam memanage pola konsumsi asupan makanan dan minuman. Diabetes Mellitus merupakan momok yang paling menyeramkan di era globalisasi saat ini , mengingat DM selain diderita usia lansia, tak pelak lagi, kasus Diabetes Mellitus itu juga sudah menyerang kaum muda bahkan anak-anak hal itu menunjukkan makin buruknya tingkatan kesehatan masyarakat yang dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat modern.

Detail artikel »

Oleh : Agung R. Pamungkas, S.Kom *)

Perkembangan teknologi adalah suatu hal yang mutlak dan akan terus berjalan, bahkan terkadang teknologi juga berevolusi dan melakukan lompatan - lompatan yang terkadang tidak terbayangkan sebelumnya oleh manusia. Perkembangan teknologi yang sangat pesat dan masif juga terjadi pada perkembangan teknologi informasi. akhir-akhir ini Internet Of Things yang kemudian disebut IoT menjadi trending topics pada dunia teknologi informasi.

Detail artikel »

Oleh : Patriawati Narendra, SKM *)

Wanita merupakan aset bangsa, melalui wanitalah perkembangan dan kemajuan generasi muda dipertaruhkan, wanita yang kuat dan sehat merupakan pioner pondasi kekuatan dan sekaligus merupakan aset bagi bangsa dan negara. Tapi bagaimana bila wanita sebagai aset bangsa dan negara terancam penyakit yang mematikan? Penyakit yang menyerang organ reproduksi wanita, yang mana organ tersebut sangat penting untuk melestarikan sebuah generasi.

Detail artikel »

Oleh  Toto Subandriyo
Kepala DKPP Kab. Tegal
Pengajar pada Program Magister Manajemen STIE Bank BPD Jateng

Sebagai tradisi generik Bangsa Indonesia, ritual Lebaran merupakan  sebuah keajaiban budaya. Dilihat dari skala gerak manusia, tak satu pun ritual budaya di negeri ini yang dapat menyamai masifnya perayaan Lebaran. Mobilitas puluhan juta orang dari tempat yang satu ke tempat lain terjadi secara masif dalam kurun waktu hampir bersamaan. Tak ayal  ketika peristiwa ini datang selalu memicu keras dinamika sosial ekonomi masyarakat.

Detail artikel »

Oleh : Patriawati Narendra, SKM *)

Jika flasback ke tahun 1970 maka sangat asing bagi kita untuk mengenal tentang HIV AIDS. Kasus penyakit yang tak pernah terbayangkan dibenak kita, tak ada obatnya, tak akan bisa sembuh. Namun ternyata kasus tersebut sekarang menjadi primadona dalam ranah pencegahan penyakit infeksi di Indonesia, bagaimana tidak. Jumlah kasus ibu dengan HIV positif menempati posisi pertama mengalahkan kasus HIV pada populasi beresiko WPS (Wanita Pekerja Seks) tentu hal ini sangat mencengangkan, ibu rumah tangga yang tidak berperilaku beresikopun ternyata menjadi peringkat pertama  paling terinfeksi HIV. Sebuah negara akan kuat jika memiliki rakyat yang sehat dan cerdas, tapi bagaimana hal itu bisa terwujud jika fondasi utama sebuah negara rentan terinfeksi,bagaimana dengan generasi penerus bangsaini, sangat ironis sekali .

Detail artikel »

Oleh Toto Subandriyo
Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP)

Menteri Perdagangan telah mengeluarkan Permendag Nomor 27/2017 menggantikan Permendag Nomor 63/2016 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen. Permendag yang baru ini mengeluarkan komoditas cabai, dan memasukkan minyak goreng, daging beku, daging ayam dan telur ayam ras, ke daftar harga acuan. Sehingga komoditas yang diatur menjadi beras, jagung, kedelai, gula, minyak goreng, bawang merah, daging beku, daging sapi segar, daging ayam dan telur ayam ras.

Detail artikel »

Oleh M. Chandra Fighi I. *)

Bagi para programmer / pengembang aplikasi terutama aplikasi berbasis web, tentunya sudah banyak yang mengenal framework Laravel, framework php yang sangat fenomenal, kenapa fenomenal? Karena laravel merupakan framework baru tetapi kualitas dan daya tarik Laravel mampu menarik minat para programmer/pengembang aplikasi web untuk menggunakannya. Beberapa daya tarik dari Laravel adalah library yang lengkap dan dokumentasi yang lengkap juga. Tapi artikel kali ini saya bukan membahas tentang Laravel, tetapi saya akan membahas tentang "sang anak" dari Laravel yaitu Lumen. Apa itu lumen dan apa kegunaannya?

Detail artikel »

Oleh : Afiati Hary Kresnawati *)

Barangkali kita pernah menjumpai kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan teman atau saudara kita tiba-tiba berubah dari semula terdaftar pada fasilitas kesehatan yang sebelumnya menjadi terdaftar sebagai peserta pada fasilitas kesehatan yang berbeda. Tentunya hal itu sangat mengejutkan dan merepotkan peserta jika tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dengan terbitnya Peraturan BPJS Kesehatan Nomer 1 Tahun 2017 tampaknya fenomena tersebut akan lebih banyak terjadi karena BPJS Kesehatan berwacana untuk melaksanakan pemerataan peserta di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

Detail artikel »

Oleh Toto Subandriyo
Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP) Kab. Tegal

Usaha peternakan unggas rakyat, utamanya ayam petelur, beberapa bulan terakhir ini dalam kondisi mengkhawatirkan. Kondisinya persis seperti digambarkan dalam peribahasa "bagaikan telur di ujung tanduk", dalam kondisi bahaya dan harus segera diselamatkan. Sudah beberapa bulan harga telur ayam di tingkat peternak di sejumlah daerah di Indonesia terjun bebas hingga mencapai Rp 13.800 per kilogram, jauh dari titik impas (break even point) Rp 16.500-Rp 17.000 per kilogram.

Detail artikel »

 

1 2 3 4 5 6 next »

Harga Kebutuhan

Harga kebutuhan berdasarkan Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Tegal adalah :

Beras IR 64 ( kw premium ) : 10.700 / Kg
Beras IR 64 ( kw medium ) : 9.850 / Kg
Gula Pasir Kristal ( kw medium ) : 11.500 / Kg
Minyak Goreng Curah (tanpa merek) : 27.000 / Liter
Minyak Goreng merk Bimoli (botol) : 14.000 / Liter

Daftar Harga lengkap...

Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Tegal
Update : Kamis, 19 Oktober 2017