♣   SMSLaporBupati di 085.6000.8070.9  ♣  
Home | Artikel | Harga Acuan Pangan
2017-06-02 11:14:22

Oleh Toto Subandriyo
Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP)

Menteri Perdagangan telah mengeluarkan Permendag Nomor 27/2017 menggantikan Permendag Nomor 63/2016 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen. Permendag yang baru ini mengeluarkan komoditas cabai, dan memasukkan minyak goreng, daging beku, daging ayam dan telur ayam ras, ke daftar harga acuan. Sehingga komoditas yang diatur menjadi beras, jagung, kedelai, gula, minyak goreng, bawang merah, daging beku, daging sapi segar, daging ayam dan telur ayam ras.

Penentuan harga acuan ini merupakan salah satu bentuk intervensi pemerintah dalam tata kelola pangan nasional. Ketika harga penjualan di tingkat konsumen berada di atas harga acuan, menjadi kewajiban pemerintah untuk melakukan intervensi pasar. Antara lain dalam bentuk operasi pasar (OP) dan pasar murah. Sebaliknya, jika harga pembelian di tingkat petani berada di bawah harga acuan, pemerintah wajib melakukan intervensi dalam bentuk pembelian oleh pemerintah sesuai harga acuan atau pemberian insentif lainnya.

Regulasi ini menjawab berbagai kritik yang dilontarkan beberapa kalangan terhadap tata kelola pangan selama ini. Dalam mengelola pangan bangsa, pemerintah mengelola layaknya produk manufaktur. Nyaris semuanya diserahkan kepada mekanisme pasar. Walhasil, gonjang-ganjing harga bahan pangan selalu terulang dari musim ke musim, dari lebaran yang satu ke lebaran berikutnya.  

Harga acuan ditetapkan guna menjamin ketersediaan, kestabilan, dan kepastian harga di petani dan konsumen. Sehingga pemerintah tidak lagi kedodoran dalam menghadapi gejolak harga kelompok bahan pangan bergejolak (volatile foods). Gejolak harga pangan ini selalu memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

Ujian Pertama

Sebenarnya harga keseimbangan baru beberapa komoditas pangan seperti daging sapi segar sudah lama terbentuk. Harga keseimbangan baru tersebut kebanyakan lebih tinggi dibanding harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Data Kementerian Perdagangan tentang harga bahan pokok yang pada Jumat (26/5), menunjukkan harga rata-rata nasional beberapa komoditas pangan jauh di atas harga acuan. Tanpa upaya serius dari pemerintah dalam stabilisasi harga, maka kebijakan itu tidak bisa berlaku efektif.

Harga rata-rata nasional beras medium mencapai Rp 10.595/kg (harga acuan Rp 9.500/kg). Harga gula pasir Rp 13.535/kg (harga acuan Rp12.500/kg), harga minyak goreng curah Rp 11.497/l (harga acuan Rp 10.500/l), harga daging sapi Rp 117.000/kg (harga acuan Rp 105.000/kg). Begitu pula untuk harga kedelai impor Rp 10.601/kg (harga acuan Rp 6.800/kg), dan telur ayam ras Rp 23.119/kg (harga acuan Rp 22.000/kg). Kenaikan harga pangan yang terjadi menjelang Ramadan dan kemungkinan berlangsung hingga tibanya lebaran nanti, akan menjadi ujian pertama sejauh mana Permendag Nomor 27/2017 berlaku efektif dalam implementasinya.

Pada prinsipnya upaya stabilisasi harga pangan diawali dari penguatan tiga pilar ketahanan pangan, yaitu peningkatan produksi, penguatan stok, serta kelancaran distribusi. Meroketnya harga kelompok bahan pangan bergejolak (volatile foods) di sejumlah daerah beberapa hari terakhir, setidaknya mengindikasikan adanya permasalahan yang terjadi dalam tiga pilar tersebut. Jika kita telusur lebih jauh, meroketnya harga bawang putih saat ini lebih dipicu karena peningkatan permintaan masyarakat terhadap bumbu dapur tersebut yang tidak diimbangi dengan penguatan stok di pasaran.

Untuk penguatan stok bahan pangan ini sebenarnya pemerintah punya otoritas dan kewenangan untuk menggandeng semua konsorsium di bidang pangan. Semua diharapkan bisa bersinergi dengan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga. Misalnya dalam rangka stabilisasi harga daging sapi segar, pemerintah dapat mengandeng konsorsium perusahaan peternakan (feedlot) dalam penguatan pasokan untuk memenuhi kebutuhan daging sapi segar masyarakat.

Upaya seperti ini pernah dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) selama Ramadan hingga Lebaran 2016 lalu yang menggandeng  konsorsium 10 perusahaan peternakan. Upaya ini dalam rangka menindaklanjuti penegasan Presiden Jokowi yang dalam setiap kesempatan berpidato selalu menyampaikan agar harga daging sapi diturunkan  menjadi Rp 80.000/kilogram. Konsorsium menyediakan 1.000 ekor sapi hidup siap potong dan menyediakan 8.110 ton daging beku. Meski tidak sampai menyentuh level harga daging segar Rp 80.000/kilogram, namun upaya itu mampu "menjinakkan" harga daging sapi segar yang biasanya pada hari-H lebaran selalu "mbedhal" alias bergerak liar.

Sinergi

Sebagai catatan penutup dari tulisan ini perlu penulis sampaikan, agar efektivitas harga acuan pangan ini dapat terjaga maka harus dibangun sinergi antara pemerintah provinsi/kabupaten/kota dengan pemerintah pusat dalam mengendalikan harga pangan. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di semua tingkatan harus lebih diberdayakan.

Tim harus menjamin ketersedian bahan pangan yang cukup, serta menjamin kelancaran distribusi. Seluruh pemangku kepentingan harus menjalankan tugasnya secara intensif dalam upaya stabilisasi harga pangan. Penyelenggaraan  operasi pasar harus lebih diintensifakan baik dalam hal kuantitas maupun cakupan wilayah. Saat bulan Ramadan dan menjelang lebaran merupakan momentum paling tepat bagi instansi pemerintah dan para pengusaha untuk menggelar pasar sembako murah sebagai salah satu wujud tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility).

Permendag Nomor 27/2017 merupakan tindak lanjut dari amanat Peraturan Presiden (Perpres)  Nomor 71 Tahun 2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Harga kebutuhan Pokok dan Barang Penting. Kehadiran Perpres ini diharapkan mampu meredam gejolak harga berbagai kebutuhan pokok yang disebabkan karena ulah para spekulan.

Oleh karena itu penegakan hukum harus dilakukan secara tegas bagi para pelanggar ketentuan. Mereka yang melakukan spekulasi, seperti upaya penimbunan dan pengoplosan, harus dikenai sangsi tegas sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Tanpa upaya-upaya serius yang terkoordinasi, maka sebaik apapun aturan dikeluarkan tidak akan berjalan efektif. Hanya menjadi macan kertas yang mandul dalam tataran implementasi.***

CATATAN: artikel ini tengah disiapkan untuk dimuat di Harian Kompas dengan judul "EFEKTIVITAS HARGA ACUAN"

Artikel Lainnya

Oleh  Toto Subandriyo
Pengajar Mata Kuliah Perilaku dan Budaya Organisasi
Program Magister Manajemen STIE Bank BPD Jateng

Miris rasanya mengikuti perkembangan berita pengungkapan praktik korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu terakhir terhadap para penyelenggara negara. Operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK pada awal tahun ini terhadap Bupati Klaten Sri Hartini rupanya tidak serta merta membuat nyali para koruptor ciut. Alih-alih merasa ciut dan jera, peristiwa serupa justru terulang dan terulang lagi di kemudian hari. OTT lagi, OTT lagi...

Detail artikel »

Oleh : Patriawati Narendra, SKM  *)

Era globalisasi seperti sekarang ini semakin memudahkan kita dalam mengkonsumsi berbagai makan dan minuman yang mengandung karbohidrat, mengandung kalori dengan jumlah yang cukup tinggi, restoran, fast food, makanan instan dan sejumlah kedai, kafe yang semakin menjamur dan ratusan jumlahnya tentunya akan membuat tantangan tersendiri bagi kita dalam memanage pola konsumsi asupan makanan dan minuman. Diabetes Mellitus merupakan momok yang paling menyeramkan di era globalisasi saat ini , mengingat DM selain diderita usia lansia, tak pelak lagi, kasus Diabetes Mellitus itu juga sudah menyerang kaum muda bahkan anak-anak hal itu menunjukkan makin buruknya tingkatan kesehatan masyarakat yang dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat modern.

Detail artikel »

Oleh : Agung R. Pamungkas, S.Kom *)

Perkembangan teknologi adalah suatu hal yang mutlak dan akan terus berjalan, bahkan terkadang teknologi juga berevolusi dan melakukan lompatan - lompatan yang terkadang tidak terbayangkan sebelumnya oleh manusia. Perkembangan teknologi yang sangat pesat dan masif juga terjadi pada perkembangan teknologi informasi. akhir-akhir ini Internet Of Things yang kemudian disebut IoT menjadi trending topics pada dunia teknologi informasi.

Detail artikel »

Oleh : Patriawati  Narendra, SKM *)

Flu burung adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas. Penyakit flu burung yang ditularkan oleh virus Avian Influenza jenis H5N1 pada unggas dikonfirmasikan telah terjadi di Republik Korea, Vietnam, Jepang, Thailand, Komboja, Taiwan, Laos, China, Indonesia dan Pakistan. Sumber virus diduga berasal dari migrasi burung dan tranportasi unggas yang terinfeksi. (Balitbang Depkes, 2005).

Detail artikel »

Oleh : Patriawati Narendra, SKM *)

Wanita merupakan aset bangsa, melalui wanitalah perkembangan dan kemajuan generasi muda dipertaruhkan, wanita yang kuat dan sehat merupakan pioner pondasi kekuatan dan sekaligus merupakan aset bagi bangsa dan negara. Tapi bagaimana bila wanita sebagai aset bangsa dan negara terancam penyakit yang mematikan? Penyakit yang menyerang organ reproduksi wanita, yang mana organ tersebut sangat penting untuk melestarikan sebuah generasi.

Detail artikel »

Oleh  Toto Subandriyo
Kepala DKPP Kab. Tegal
Pengajar pada Program Magister Manajemen STIE Bank BPD Jateng

Sebagai tradisi generik Bangsa Indonesia, ritual Lebaran merupakan  sebuah keajaiban budaya. Dilihat dari skala gerak manusia, tak satu pun ritual budaya di negeri ini yang dapat menyamai masifnya perayaan Lebaran. Mobilitas puluhan juta orang dari tempat yang satu ke tempat lain terjadi secara masif dalam kurun waktu hampir bersamaan. Tak ayal  ketika peristiwa ini datang selalu memicu keras dinamika sosial ekonomi masyarakat.

Detail artikel »

Oleh : Patriawati Narendra, SKM *)

Jika flasback ke tahun 1970 maka sangat asing bagi kita untuk mengenal tentang HIV AIDS. Kasus penyakit yang tak pernah terbayangkan dibenak kita, tak ada obatnya, tak akan bisa sembuh. Namun ternyata kasus tersebut sekarang menjadi primadona dalam ranah pencegahan penyakit infeksi di Indonesia, bagaimana tidak. Jumlah kasus ibu dengan HIV positif menempati posisi pertama mengalahkan kasus HIV pada populasi beresiko WPS (Wanita Pekerja Seks) tentu hal ini sangat mencengangkan, ibu rumah tangga yang tidak berperilaku beresikopun ternyata menjadi peringkat pertama  paling terinfeksi HIV. Sebuah negara akan kuat jika memiliki rakyat yang sehat dan cerdas, tapi bagaimana hal itu bisa terwujud jika fondasi utama sebuah negara rentan terinfeksi,bagaimana dengan generasi penerus bangsaini, sangat ironis sekali .

Detail artikel »

Oleh M. Chandra Fighi I. *)

Bagi para programmer / pengembang aplikasi terutama aplikasi berbasis web, tentunya sudah banyak yang mengenal framework Laravel, framework php yang sangat fenomenal, kenapa fenomenal? Karena laravel merupakan framework baru tetapi kualitas dan daya tarik Laravel mampu menarik minat para programmer/pengembang aplikasi web untuk menggunakannya. Beberapa daya tarik dari Laravel adalah library yang lengkap dan dokumentasi yang lengkap juga. Tapi artikel kali ini saya bukan membahas tentang Laravel, tetapi saya akan membahas tentang "sang anak" dari Laravel yaitu Lumen. Apa itu lumen dan apa kegunaannya?

Detail artikel »

Oleh : Afiati Hary Kresnawati *)

Barangkali kita pernah menjumpai kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan teman atau saudara kita tiba-tiba berubah dari semula terdaftar pada fasilitas kesehatan yang sebelumnya menjadi terdaftar sebagai peserta pada fasilitas kesehatan yang berbeda. Tentunya hal itu sangat mengejutkan dan merepotkan peserta jika tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dengan terbitnya Peraturan BPJS Kesehatan Nomer 1 Tahun 2017 tampaknya fenomena tersebut akan lebih banyak terjadi karena BPJS Kesehatan berwacana untuk melaksanakan pemerataan peserta di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

Detail artikel »

Oleh Toto Subandriyo
Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP) Kab. Tegal

Usaha peternakan unggas rakyat, utamanya ayam petelur, beberapa bulan terakhir ini dalam kondisi mengkhawatirkan. Kondisinya persis seperti digambarkan dalam peribahasa "bagaikan telur di ujung tanduk", dalam kondisi bahaya dan harus segera diselamatkan. Sudah beberapa bulan harga telur ayam di tingkat peternak di sejumlah daerah di Indonesia terjun bebas hingga mencapai Rp 13.800 per kilogram, jauh dari titik impas (break even point) Rp 16.500-Rp 17.000 per kilogram.

Detail artikel »

 

1 2 3 4 5 6 next »

Harga Kebutuhan

Harga kebutuhan berdasarkan Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Tegal adalah :

Beras IR 64 ( kw premium ) : 10.700 / Kg
Beras IR 64 ( kw medium ) : 9.850 / Kg
Gula Pasir Kristal ( kw medium ) : 11.500 / Kg
Minyak Goreng Curah (tanpa merek) : 27.000 / Liter
Minyak Goreng merk Bimoli (botol) : 14.000 / Liter

Daftar Harga lengkap...

Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Tegal
Update : Kamis, 19 Oktober 2017